Mengenal Nurhayati Subakat, Bos Wardah yang Sumbang Rp 40 M Untuk Tangani Corona

Mengenal Nurhayati Subakat, Bos Wardah yang Sumbang Rp 40 M Untuk Tangani Corona


Nah bebekal pengalaman inilah Nurhayati memutuskan untuk membuka usaha sendiri, padahal waktu itu ia sudah mempunyai jabatan yang tinggi di perusahaan tersebut. Namanya juga usaha pasti ada risiko yang harus diterima dong?
Pada 1985 ia mencoba untuk produksi shampo yang menargetkan salon-salon pinggiran di daerah Tangerang.
Saat itu menurut wanita Padang ini tidak membutuhkan modal yang terlalu besar, ia punya mobil yang bisa digunakan untuk memasarkan dagangan dan rumah untuk tempat produksi sehari-hari juga sudah cukup.
Putri’ merek produk yang pertama dijual hanya dipasarkan ke salon-salon pinggiran di wilayah Tangerang.
Namun karena harga yang terjangkau tetapi kualitasnya bagus, produk tersebut akhirnya banyak peminat hingga Nurhayati bisa mendirikan sebuah PT Pusaka Tradisi Ibu dalam manajemen usaha shamponya.
Menjalankan usaha pasti tak selamanya berada di atas, begitu juga dengan Nurhayati yang mengalami cobaan beberapa tahun kemudian.
Setelah 5 tahun bisnisnya berkembang pesat, pabrik miliknya malah dilalap api dan terbakar.
Kejadian tersebut tentu saja membuat nasib usaha shampo yang telah dirintis dengan kerja keras berada di ujung tanduk, bahkan ia sempat berpikir untuk menutup usaha karena belum terbayarnya utang di bank ditambah lagi dengan gaji karyawan yang belum diberikan haknya.
Namun apakah Nur lantas pasrah? Tentu tidak, kalau saat itu ia berhenti untuk usaha mungkin kita tidak akan mengenal brand Wardah seperti saat ini.

BACA HALAMAN SELANJUTNYA

Halaman
2 3