Kisah Iskandar Budi Daya Alpukat Seberat 2 Kg, Sekali Panen Bisa Naik Haji dan Beli Honda Jazz

Kisah Iskandar Budi Daya Alpukat Seberat 2 Kg, Sekali Panen Bisa Naik Haji dan Beli Honda Jazz


“Dari cabang-cabang itu, kami terus menyeteknya, dan terus mempertahankan kualitasnya, terutama buahnya agar tetap besar,” ungkapnya.
Bahkan, saking besar buahnya, ia harus banyak menguranginya.
Tujuannya, agar batangnya tak sampai patah karena tak kuat menahan beratnya buah. Sebab, satu pohon saja bisa berbuah sampai 200 biji.
Namun, sebelum buah itu besar, harus dikurangi separuh atau tinggal 80 sampai 100 buah per pohon.
“Kami harus rutin menghitungnya di saat buah itu masih kentel. Jika tak dikurangi, ya nggak kuat batangnya, karena satu batang saja bisa berbuah 8 sampai 10,” paparnya.
Memang, masa panennya agak lebih lama. Untuk alpukat lokal, masa panennya hanya tiga bulan.
Sedangkan untuk alpukat Aligator ini sampai tujuh bulan atau lebih lama empat bulan.
“Menunggu sedikit lebih lama, namun hasilnya memuaskan. Sebab, buah yang paling kecil saja beratnya 1,8 kg dan yang terbesar berkisar 2,2 kg atau sebesar kepala bayi. Jadi, mau makan kita itu cukup makan satu buah saja, bisa tak habis,” ujarnya.
Tak hanya besar, buahnya juga tahan lama atau tak mudah busuk dibandingkan alpukat lainnya yang hanya bertahan sepekan.
Alpukat Aligator ini bisa bertahan sampai tiga pekan.
Rasa alpukat ini tak hanya pulen, tapi juga legit. Meski terlihat besar, kulitnya ternyata tipis sehingga dagingnya tebal.
“Kalau sudah merasakan, pasti ketagihan karena rasa legitnya itu yang menggoda lidah kita,” papar Iskandar.
HargaKarena bentuknya yang jauh lebih besar dibanding alpukat lokal, maka harganya pasti berbeda. Harga alpukat aligator Rp 30.000 per 1 kg.
Bayangkan, dengan harga segitu, maka setiap pohonnya bakal menghasilkan uang Rp 6 juta.
Sebab, setiap pohon atau sekali panen rata-rata berbuah sebanyak 100 biji. Itu dengan estimasi rata-rata per biji seberat 2 kg.
“Tak ada biaya perawatan khusus. Kalau sudah besar, ya hanya disiram saja. Dan, sesekali dikasih pupuk kandang,” paparnya.
Soal harga bibitnya, Iskandar mengaku tak mahal karena rata-rata cuma Rp 50.000, dengan tinggi 80 cm.
Tak hanya menjual buahnya, permintaan bibit juga tinggi. Di antaranya, ia rutin mengirim pesanan bibit ke Palembang, Penajam (Kaltim), dll.
“Rata-rata sebulan permintan ke Kaltim saja sekitar 5.000 bibit. Belum lagi, permintaan ke daerah lainnya, sehingga kami sering kehabisan stok,” ujarnya.
Berapa penghasilannya, ia agak malu-malu menceritakan. Namun, katanya, bertani alpukat Aligator ini merupakan salah satu usaha yang punya prospek ke depan.
“Setelah dipotong ongkos karyawan (punya 15 karyawan), masih untung lah. Yang penting, kami bisa memberikan pekerjaan buat para tetangga,” paparnya.
KompetitorAlpukat aligator ternyata memiliki pesain, yaitu alpukat asal Vietnam. Namanya alpukat Has.
Alpukat ini menguasai sejumlah supermarket di Indonesia.
Ukuran alpukat Has dan Aligator sama, begitu juga dengan rasa yang hampir mirip.
Namun harganya lebih murah, yakni Rp 21.000 per kg.
“Kami akhirnya menurunkan harganya dan kami samakan dengan alpukat Has yang asal Vietnam itu. Tujuannya, agar kami bisa bersaing. Kami minta agar pemerintah bisa membatasi impor alpukat supaya petani kita bisa berjaya,” ujar dia.
Sumber: kompas.com

BACA HALAMAN SELANJUTNYA

Halaman
2 3