Belajar Hidup Sederhana dari Orang-Orang Terkaya di Dunia, yang Ternyata Mobilnya Biasa Aja

Belajar Hidup Sederhana dari Orang-Orang Terkaya di Dunia, yang Ternyata Mobilnya Biasa Aja



Kalau Mark Zuckerberg kira-kira mobilnya apa ya? Ternyata CEO Facebook ini cuma pakai mobil yang harganya nggak lebih dari 500 juta


Kalau nggak nyentrik bukan Mark Zuckerberg namanya. Nggak cukup dengan rela drop out dari Harvard untuk mengembangkan Facebook, memilih kencan dengan sang istri (yang dulu masih pacarnya) ketimbang mengerjakan tugas kuliah, dan kini pilihan mobilnya pun cukup berbanding terbalik dengan kekayaannya. Untuk seorang CEO yang termasuk lima orang terkaya di dunia, Mark Zuckerberg memilih mobil Acura TSX yang harganya nggak sampai 500 juga. Padahal uang segitu, buatnya mungkin nggak seberapa, ya.

Mereka melihat fungsi, bukan gengsi. Lepas dari sikap konsumtif yang hanya memikirkan gaya, nggak heran kalau kemudian mereka bisa kaya raya

Dari beberapa alasan pilihan mobil miliuner di atas, agaknya poin fungsi yang ditekankan. Kalau memang mobil yang dipilih sudah mencukupi dan nyaman dipakai, kenapa harus berganti dengan merek lain yang lebih mahal meski bergengsi? Bandingkan dengan gaya hidup kita selama ini. Nggak semua, tapi masih banyak yang terpaku pada glamournya merek yang menawarkan gengsi, daripada memikirkan fungsi. Kita memilih merek-merek luar negeri yang mahal dibandingkan produk-produk lokal yang kualitasnya setara. Kalau dilihat dari sini, jadi masuk akal, ya, kenapa mereka bisa kaya raya?

Apa kabar kita yang mudah tergiur dengan angka-angka diskon dan berakhir membeli barang-barang yang tak perlu?

Harus diakui, di era serba digital dan belanja tinggal klik-klik saja ini membawa dampak yang lumayan signifikan. Sambil tiduran, kita bisa melihat barang-barang menggiurkan di aplikasi, promo-promo bertebadan, dan diskon up to sekian persen yang langsung bikin hasrat belanja menggelora. Padahal kalau dipikir-pikir, kita nggak terlalu butuh juga. Tapi dengan semangat “mumpung promo”, atau “mumpung diskon”, bisa juga “sayang kalau nggak dibeli”, kita jadi mengeluarkan uang yang seharusnya nggak perlu. Kalau sudah begini, gimana mau cepat kaya ya?

Penghasilan yang meningkat membuat kita merasa kebutuhan juga meningkat. Padahal kalau diikuti nggak ada habisnya

Dulu ketika gaji masih sebatas UMR, makan di warung nasi dengan lauk tahu dan tempe sesekali telur ceplok sudah cukup. Baju pun cukup beli yang harga 50 ribuan. Tapi ketika gaji meningkat, standar makan pun meningkat. Beli baju pun sekarang memilih yang harganya lebih mahal. Lalu kita mengeluh kebutuhan semakin mahal, padahal mungkin “keinginan” kitalah yang semakin mahal. Kalau hal-hal seperti ini dituruti nggak akan ada habisnya. Berapa pun penghasilan yang dimiliki nggak akan cukup juga.

Jeff Bezos pernah menjawab “Itu adalah simbol dari menghabiskan uang untuk hal-hal yang penting bagi pelanggan dan tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu” ketika ditanya kenapa kantor Amazon.com terlihat terlalu sederhana dibandingkan nilai perusahaan tersebut. Jadi dari hal ini kita bisa mengambil satu poin penting. Jika ingin cepat kaya, mungkin kita bisa mulai dari sini: berhenti mengedepankan gengsi dan beralih menomorsatukan fungsi, dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Demikianlah pokok bahasan Artikel ini yang dapat kami paparkan, Besar harapan kami Artikel ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari Artikel ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar Artikel ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang

BACA HALAMAN SELANJUTNYA

Halaman
2 3