Suami yang Tak Punya Rasa Cemburu Dilarang Masuk Surga, Benarkah ?

Suami yang Tak Punya Rasa Cemburu Dilarang Masuk Surga, Benarkah ?
Gambar terkait


Betapa Mulianya Rasa Cemburu Seorang Suami
Banyak hal-hal mulia yang terkandung dalam cemburu menurut pandangan Islam. Suami yang cemburu tidak akan suka bila melihat istrinya tidak menutup aurat. Dengan tegas seorang suami harus meminta kepada istrinya untuk menutup auratnya demi memenuhi kewajiban sebagai seorang muslimah. Suami yang baik akan merasa cemburu dan tidak suka bila mengetahui keluarganya melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum-hukum syariat. Suami yang mulia akan cemburu bila ada laki-laki lain yang menggoda istrinya karena istrinya adalah sepenuhnya milik dan haknya. Maka di dalam pernikahan cemburu itu diperbolehkan asal tidak berlebihan, salah, dan membabi buta.


Para ulama berpendapat, perasaan cemburu yang timbul dalam hubungan suami istri hendaknya diikuti dengan jernihnya akal sehat. Sehingga kecemburuan itu menjadi sesuatu yang mulia. Melalui karyanya, secara sederhana Syekh Ibrahim menegaskan bahwa hakikat dari rasa cemburu adalah bersih. Cemburu menurut pandangan Islam adalah cemburu yang jauh dari nafsu duniawi. Dalam bahasa Arab, cemburu diistilahkan sebagai ghirah. Ada dua macam ghirah. Ghirah yang pertama disebut ghirah lil mahbub, yaitu rasa cemburu untuk membela orang yang dicintai. Ghirah yang kedua disebut ghirah ‘alal mahbub. Ghirah ini lah yang menjelaskan tentang rasa cemburu terhadap orang lain yang juga mencintai orang yang dicintainya. Suami yang memiliki ghirah seperti inilah yang disebut sebagai suami terpuji karena ia betul-betul menjaga apa yang sudah menjadi miliknya.


Suami yang tidak memiliki cemburu, inilah tipe suami yang dikecam oleh Rasulullah. Meski dibolehkan, rasa cemburu tetap mempunyai batas. Jangan sampai kecemburuan yang salah justru merusak kebahagiaan rumah tangga yang sudah diciptakan. Sejauh mana rasa cemburu itu muncul, pasangan suami istri harus mampu mengelolanya dengan baik supaya tidak menimbulkan cacat cela dalam rumah tangganya apalagi sampai berpengaruh kepada anak-anak.

BACA HALAMAN SELANJUTNYA

Halaman
2 3