Lebih Baik Jadi emak BPKB (Berdaster Tapi Penghasilan Kayak Bos) Daripada emak BPJS (Budget Pas-Pas’an tapi Jiwa Sosialita)

 Lebih Baik Jadi emak BPKB (Berdaster Tapi Penghasilan Kayak Bos) Daripada emak BPJS (Budget Pas-Pas’an tapi Jiwa Sosialita)
Lebih Baik Jadi Emak BPKB (Berdaster Tapi Penghasilan Kayak Bos) Daripada Emak BPJS (Budget Pas-Pas’an tapi Jiwa Sosialita). Bener Gak Nih?

Demikianlah kaum laki-laki sangat mudah tergoda oleh sesuatu yang menarik dalam pandangan mata mereka. Mudah tertarik dan terpesona oleh casing. Tampilan wanita yang bening, cantik, menarik dan mempesona, sangat cepat menjadi daya tarik kaum laki-laki.

Tentu saja ketertarikan seperti itu normal. Yang tidak normal kalau mereka tertarik sesama laki-laki.

Pengen Istri yang Selalu Bening?

Hal yang sering kali terjadi adalah, kaum lelaki segera membandingkan wanita yang dilihat, baik secara langsung, maupun hanya foto dan psoternya dengan istri sendiri.

Tampilan wanita yang tampak “bening dan bercahaya” segera dibandingkan dengan istri di rumah yang lebih tampak sebagai ibu yang sangat bijaksana bagi anak-anak mereka. Tidak tampak sebagai istri yang menarik dan menggoda hati suami.

Akhirnya muncul komentar kekaguman atas kebeningan wanita lain yang dilihat dalam iklan atau dalam kehidupan nyata.

Persoalannya, sering kali terjadi situasi tidak adil. Banyak suami menghendaki istri yang bening bercahaya, namun mereka tidak melakukan upaya untuk mewujudkannya.

Mereka hanya bisa berkomentar dan membandingkan, bahkan ada yang sampai mengejek tampilan istrinya karena membandingkan dengan wanita lain yang sangat menarik hati. Situasi seperti ini cepat membuat sakit hati para istri.

Sesungguhnya prinsipnya sederhana saja. Segala sesuatu memerlukan sentuhan perawatan. anda mampu membeli motor yang bagus, akan cepat rusak dan usang jika hanya dinaiki tanpa dirawat yang memadai.

Anda membeli mobil mewah yang sangat mengkilap, akan cepat pudar dan kusam jika hanya dipakai dan tidak dilakukan perawatan yang tepat. anda punya rumah yang megah, akan cepat rapuh dan kumuh jika tidak pernah mendapat perawatan. Demikian pula istri.

Saat anda memilih ia sebagai istri, mungkin saja waktu itu ia tampak begitu bening dan cantik di mata anda.

Seiring perjalanan usia dan beban hidup berumah tangga, kebeningan itu cepat sirna, kecantikan itu cepat pudar, keelokan itu cepat hilang, jika tidak dirawat dengan cermat dan tepat.

Bentuk tubuh yang dulu indah, beberapa tahun kemudian tinggal sisa-sisa. Wajah yang dulu demikian cerah ceria, kini bisa cepat kusut masai oleh banyaknya problematika kehidupan.

Oleh karenanya, jika ingin istri selalu terlihat bening, cantik dan awet muda, tentu ada sarana yang harus disediakan oleh para suami. Minimal ada dua sarana yang harus disediakan suami untuk membuat sang istri selalu bening bercahaya, yaitu sarana spiritual dan sarana material.

Pertama, Sarana Mental Spiritual

Sarana utama untuk membuat istri selalu bening adalah dengan merawat mental dan spiritualnya. Disebut juga perawatan hati dan jiwanya.

Ini yang akan menjadi inner beauty, kebeningan dari dalam jiwa. Bukan hanya kecantikan casing dan penampilan, namun benar-benar kecantikan dari dalam jiwa. Untuk merawat mental dan spiritual istri, diperlukan sarana yang juga bercorak mental spiritual.

Hendaknya suami pandai menghadirkan suasana yang menyenangkan hati istri. Jika istri anda bahagia, ia akan selalu tampak bening, cantik dan awet muda.

Menyenangkan hati istri tidak selalu identik dengan memberikan semua keinginan dan permintaannya, namun lebih kepada memberikan sentuhan ruhaniyah yang membuat istri mendapatkan kesejukan suasana hati dan pikiran.

Aktivitas Ibadah

Mengajak dan menjaga aktivitas ibadah istri adalah sarana spiritual untuk membeningkan pikiran dan hati istri. Para ulama telah menjelaskan bahwa diantara dampak ibadah adalah membuat wajah terang dan cerah.

Sedangkan di antara dampak maksiat adalah menggelapkan dan memburamkan wajah. Maka bimbing selalu istri ke jalan ibadah, bukan jalan maksiat.

Penuhi kehidupannya dengan suasana ruhaniyah dan ubudiyah. Jangan hanya menuntut kebeningan istri tanpa asupan ibadah.

Tentu saja yang dimaksud bukan sekedar penunaian ritual ibadah, namun harus sampai merasakan dan menikmati hakikat ibadah.

BACA HALAMAN SELANJUTNYA

Halaman
2 3